Teologi Aktor Universalis

Pada suatu malam yang hening di Abad Pertengahan, seorang aktor yang telah tua merenungi masa lalunya yang dihabiskan dari panggung ke panggung. Kadang muncul rasa bangga manakala terbayang seorang penonton rupawan terisak-isak menyaksikan adegan tragis yang ia perankan. Namun tak jarang ia bersedih manakala lakon yang ia perankan tersingkap kedok imajinernya di hadapan kenyataan yang sering berkebalikan dengan imajinasinya.

Tapi aktor tua yang merenung itu bukan sembarang aktor, melainkan si jenius William Shakespeare. Betapapun ia memiliki keterbatasan manusiawi, namun ia berusaha keluar dari pikiran-pikiran dangkal seputar perbedaan antara dunia nyata dan dunia imajinasi atau dunia fakta dan fiksi. Pikirannya jauh mengembara menembus kategori-kategori berpikir formal dan berusaha mencapai sebuah pengetahuan universal yang diperas dari pengalamannya sebagai aktor.

Ia tersipu malu membayangkan adegan konyol saat Romeo meminum racun demi cintanya kepada Juliet, namun tiba-tiba raut mukanya berubah pilu saat ia terkenang menjadi raja yang dikhianati anak-anaknya dalam King Lear. Peran yang paling pedih adalah saat ia menjadi Hamlet yang jiwanya selalu dibayangi keraguan; rasa tersiksa yang ia alami terasa lebih mengerikan dibanding saat ia memerankan lintah-darat yang keji dalam Merchant of Venice.

“Aku telah memerankan begitu banyak manusia,” ujarnya dengan bibir gemetar akibat udara dingin. Orang-orang mengenalnya bukan sebagai dirinya, melainkan sebagai manusia-manusia rekaan yang ia perankan di panggung. “Apa kabar Hamlet,” sapaan wajar untuknya di jalanan. “Minum apa wahai Romeo?” tanya seorang penjaga kedai. Tak seorang pun yang mengenalnya sebagai William Shakespeare.

Ia pun sampai pada suatu kesimpulan yang menyakitkan. “Aku adalah manusia tak dikenal. Tak seorang pun mengenaliku sebagai seorang Shakespeare, tetapi sebagai manusia-manusia lain yang kuperankan di atas panggung, padahal mereka—manusia-manusia lain itu—tak lebih manusia imajiner ciptaanku. Aku telah menjelma mereka semua di masa lalu, dan tak kuasa melepaskan watak, pikiran dan perilakunya di masa kini. Siapa mendengar deritaku? Malaikat mana menyelamatkanku?”

Tak ada yang peduli, seakan dunia bersepakat bahwa deritanya adalah risiko wajar yang mesti dialami seorang aktor. Hanya Tuhan, yang mengintainya dari segala penjuru, berujar lirih, “Wahai Shakespeare-ku, aku merasa sebenarnya kita punya nasib yang sama. Orang-orang mengenalimu lewat tokoh-tokoh rekaan ciptaanmu—yang kau perankan dari panggung ke panggung—sedang aku tak seorang pun mengenaliku sebagai Diriku kecuali lewat segala ciptaan-Ku, alam semesta beserta isinya.”

Penyeragaman manusia

Sinopsis cerita fantasi di atas tidak dinukil dari biografi William Shakespeare, tetapi dari fiksi-biografi yang ditulis sastrawan Argentina Jorge Luis Borges berjudul Segalanya dan Bukan Siapa pun (Everything and Nothing); sebuah fiksi yang berusaha menyingkap kemungkinan humanitas yang masih tersembunyi dengan membaca secara kreatif dunia drama hingga membuka pemahaman-pemahaman lain di luarnya, termasuk teologi.

Lewat perjalanan yang panjang, teologi sebagai sebuah ilmu berusaha membangun sebuah pengetahuan yang logis dan sistematis tentang Tuhan. Usaha tersebut, sebagai reaksi atas modernitas, membuahkan definisi tentang Tuhan yang rasional karena teruji di hadapan pertanyaan-pertanyaan rasional; dan melalui rasionalitas itulah Tuhan hadir dalam realitas sosial masyarakat modern.

Setelah Tuhan diterima modernitas, manusia membangun lembaga-lembaga keagamaan sebagai perangkat penguat, sehingga posisi Tuhan kian tak tergoyahkan. Menjamurnya lembaga-lembaga dengan Tuhan sebagai ide(-ologi) menjamur di mana-mana, dengan segala fungsi dan bentuknya. Dengan kata lain, karena modernitas membutuhkan Tuhan yang rasional, manusia menjawabnya dengan teologi yang rasional juga, dan memperkokoh teologi tersebut dengan membangun sistem kelembagaan yang sama rasionalnya.

Dampak dari modus kembalinya Tuhan pada masyarakat modern tersebut adalah bahwa Tuhan dengan teologi dan lembaga keagamaan semacam itu telah menjadi kembaran lain dari modernitas dengan ilmu pengetahuan dan institusi-institusi pendukungnya. Bukan manusia modern sejati jika tidak mengerti ilmu pengetahuan yang terdapat di lembaga-lembaga modernitas: adalah persamaan lain dari tersingkirnya berbagai jalan menuju Tuhan yang berada di luar teologi dan lembaga keagamaan yang sekarang diterima.

Sebagai akibatnya, Tuhan hanya menerima jenis manusia yang sama, yaitu manusia yang diproduksi oleh berbagai lembaga keagamaan, yang menyapa-Nya dengan bahasa yang sama, dan memahainya dengan rasionalitas yang sama. Adapun manusia yang mengunjungi Tuhan tidak dengan cara itu tersisih dari agama. Ada yang menjadi mistikus, teosofis, agnostis, atau menjadi penganut ateis yang rindu-dendam kepada Tuhan tapi dirundung kekecewaan mendalam sehingga justru meninggalkan-Nya.

Ibarat drama, teologi tak ubahnya pertunjukan kolosal yang menampilkan manusia berkarakter seragam, dan bukan sebuah drama yang menampung manusia dengan watak, pengetahuan, selera, tata-krama, bahasa, dan nilai yang beragam, sama seperti universitas yang hanya menerima manusia dengan kualifikasi tertentu, atau supermarket yang hanya mempersilakan orang dengan jumlah uang tertentu. Jalan menuju Tuhan jadi begitu sempit dan terbatas.

Jalan alternatif

Tapi, benarkah sedemikian? Bagi yang percaya “teologi institusional” adalah satu-satunya jalan, jawabnya ya. Tapi ada yang berpikiran teologi hanyalah proyeksi manusia tentang Tuhan, sedang Tuhan sendiri belum tentu seperti yang ia gambarkan. Atas dasar itu, menyebut teologi sebagai satu-satunya jalan (atau model) pemahaman tentang Tuhan berisiko pada pemberhalaan terhadap teologi, sebab secara hakiki Tuhan bukanlah sejenis ilmu. Untuk itu, alternatif lain perlu didengar.

Salah-satunya adalah fiksi biografi tentang Shakespeare yang ditulis Borges di atas. Fiksi tersebut mengisyasratkan beberapa hal. Pertama, disiplin keaktoran meniscayakan pengenalan secara mendalam terhadap berbagai dimensi manusia, baik sisi gelap maupun sisi terangnya. Ia mempelajari, memasuki dan menerima sisi gelap dan terang dirinya, dan dengan cara itu seorang aktor mencapai kualitas humanis berupa makna universal manusia yang tidak dijajah dimensi-dimensi dan nilai-nilai yang sejenis saja (rasional, baik, cerdas, dst.)

Universalitas itulah sesungguhnya pesan utama dari keberadaan Tuhan yang tak terbatasi kategori atau nilai-nilai tertentu. Tuhan bukan hanya milik mereka yang cerdas, punya wawasan ilmiah, rajin beribadah, punya pekerjaan bagus dan cukup kaya, tetapi juga milik mereka yang secara religius dianggap negatif, rendah, berdosa dan bahkan “ahli neraka”, seperti pelacur, penjudi, juga orang bodoh, gila dan miskin. Teologi rasional tidak punya cukup empati terhadap kategori manusia jenis itu, dan lebih suka menjadikannya musuh yang harus dikutuk, bukannya diterima dan diselamatkan.

Kedua, fiksi Borges di atas mengisyaratkan perlunya pemahaman Tuhan secara induktif. Dengan pemahaman induktif, Tuhan hadir tidak dalam bentuk wawasan abstrak yang dipaksakan pada realitas yang konkret, tetapi sebaliknya; misalnya dengan meneliti alam atau aneka watak, sifat dan perilaku manusia hingga mencapai kesadaran teologis tertentu. Teologi induktif lebih kreatif terhadap lahirnya berbagai makna, juga lebih terbuka terhadap model pemahaman di luar teologi deduktif yang serba abstrak-metafisis, tidak konkret dan aplikatif.

Dan ketiga, fiksi Borges tentang keaktoran di atas mengisyaratkan perlunya pemahaman mental yang lebih peka dibanding pemahaman rasional terhadap berbagai gejala yang halus, terlebih terhadap Tuhan. Di samping itu rasio tidak selalu membuat manusia semakin humanis, tapi malah sering sebaliknya. Misalnya, terjadinya berbagai peperangan yang didukung berbagai perangkat dan strategi yang serba rasional telah mengakibatkan kerugian humanis tiada tara; bahkan walau dilakukan dengan mengatasnamakan Tuhan, perang-perang itu tetaplah kejahatan tak terampuni.

Faisal Kamandobat; Kompas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: